«

»

May 15

SMART GRID – Tata Kelola Sistem Tenaga Listrik Masa Depan

Kini sebagian besar pembangkit listrik yang beroperasi di dunia menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan bakarnya. Padahal, cadangan bahan bakar fosil sudah semakin menipis dan diperkirakan akan segera habis. Pada World Economic Forum 2010, terungkap bahwa pembangkit listrik berbahan bakar batubara di US menyumbang 40% emisi karbon di negara tersebut. Ketersediaan energi listrik yang mencukupi merupakan hal mutlak untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Masalah besar diatas memaksa untuk segera ditemukannya solusi terbaik yang masuk akal. SMART GRID menjadi jawaban sejak 3 tahun terakhir ini. SMART GRID merupakan suatu konsep tata kelola energi listrik yang mampu mengakomodir peran pembangkit listrik kecil berbahan bakar energi terbarukan secara optimal. Bumi ini memiliki banyak sekali sumber energi terbarukan yang sangat potensial seperti cahaya matahari dan angin. Hampir semua sumber energi terbarukan tersebut tersebar dan berada sangat dekat dengan konsumen. Logika awal dari pengembangan teknologi SMART GRID adalah berusaha semksimal mungkin memberdayakan apapun yang tersedia di bumi ini. Secara umum konsep ini bisa menghasilkan beberapa keuntungan diantaranya meningkatnya efisiensi penggunaan energi listrik, meningkatnya kehandalan sistem tenaga listrik, mengurangi emisi karbon dan mendukung pemanfaatan sumber energi terbarukan dengan lebih optimal.

SMART GRID terdiri atas 3 unsur penting, yakni teknologi informasi, telekomunikasi dan tenaga listrik. Ketiga unsur tadi bekerja sama untuk memungkinkan adanya komunikasi 2 arah antara utility company seperti PLN dengan konsumen. Dengan SMART GRID, transfer energi listrik yang terjadi tidak hanya dari perusahaan penyedia listrik ke konsumen, namun juga sebaliknya. Jika ternyata konsumen memiliki solar cell yang dapat menghasilkan energi listrik dari cahaya matahari, maka ketika energi listrik dari solar cell itu melebihi dari besar kebutuhan konsumen itu, maka konsumen bisa mengirim energi listrik ke grid yang ada. Konsumen bisa mendapatkan uang dari utility company atas hal tersebut.

Dengan teknologi SMART GRID pula, konsumen akan mempunya kendali penuh untuk mengatur pemakaian energi listrik mereka. Teknologi sensor dan kendali otomatis pada SMART GRID memungkinkan pengaturan pengaktifan peralatan listrik konsumen secara otomatis dengan mempertimbangkan jumlah enegri listrik yang ada. Contohnya, ketika siang hari dimana bisa dihasilkan energi listrik yang cukup besar dari cahaya matahari, maka mesin cuci dan beberapa peralaan berat lainnya bisa diaktifkan. Dan ketika suplai cahaya matahari mulai menurun, maka kontrol akan mengurangi pemakaian energi listrik yang tidak terlalu vital seperti penyejuk ruangan. Teknologi itu tidak hanya akan diletakan pada sisi konsumen tapi juga pada sisi grid. Jika terjadi kerusakan atau masalah pada sebuah jalur pengiriman energi listrik, maka rute pengiriman energi listrik akan diubah melalui jalur lain yang tersedia sehingga pemadaman listrik bisa diminimalisir. Semua data yang terekam pada sensor tersebut akan dikirim ke utility company untuk diolah guna menentukan strategi pengembangan dimasa yang akan datang.

Banyak negara maju seperti Jerman dan Amerika yang mulai menerapkan konsep ini. World Economic Forum 2010 juga mengungkapkan bahwa SMART GRID ini mampu mengurangi emisi karbon sebesar 25% di negara itu. Sudah saatnya dunia lebih intensif menerapkan dan mengembangkan teknologi ini demi mengurangi dampak pemanasan global.

 

I Nyoman Yuliarsa, Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM, Chairman IEEE SB UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>