«

»

Dec 07

Report on CYBERNETICS 2013 and COMNETSAT 2013

Oleh:

Alfiah Rizky Diana Putri

Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi

Instrumentasi dan Kendali 2009

Pada tanggal 3 dan 4 Desember 2013 diadakan dua konferensi internasional secara bersamaan di Yogyakarta, yaitu konferensi Cyberneticscom dan Comnetsat. Cyberneticscom sendiri adalah konferensi di bidang Intelegensi Komputasional dan Cybernetic sedangkan Comnetsat adalah konferensi di bidang Telekomunikasi, Jaringan (Network), dan Satelit.

Pada rangkaian konferensi tersebut, terdapat beberapa sesi yang diisi oleh Keynote speaker seperti Bapak Rodney van Meter dari Keio University, Jepang, Bapak Thomas Widodo, Presiden dari PT Dini Nusa Kusuma, Bapak Rizkan Chandra, Direktur Network and Solution PT Telkom Indonesia, Prof. Iti Saha Misra dari Jadavpur University, India, Prof. Wolfgang-Martin Boerner sebaga IEEE-GRSS Asia-Pacific Liaisons Indonesia, dan Satriyo Dharmanto, Presiden Direktur Multikom Global Mediatama Grup.

Bapak Rodney van Meter menjelaskan mengenai Network of Network of Quantum Repeators. Pada teleportasi kuantum, yang mengalami proses teleportasi adalah informasi dan bukan objek. Pada komputasi secara kuantum, satuan fundamental informasi yang digunakan adalah qubit dan bukan bit. Berbeda dengan bit yang hanya dapat berada pada kondisi 0 atau 1, qubit dapat berada pada kondisi 0 dan 1 secara bersamaan. Dua atau lebih qubit dapat berkorelasi lebih besar/ kuat daripada bit, yaitu dengan sifat entanglement. Entanglement dapat dijelaskan dari dua buah qubit yang dapat memiliki 4 kemungkinan keadaan seperti 2 bit. Qubit-qubit tersebut random, tetapi tidak bersifat independen. Keterkaitan yang ada meskipun kedua qubit terpisah jauh  tersebut adalah entanglement.

 

Quantum networking memiliki banyak keunggulan, seperti kemampuannya untuk menghubungkan  sensor, computer, database, dan manusia yang tidak berada pada satu tempat yang sama. Kemampuannya untuk mendeteksi penyadapan berguna untuk membagi informasi yang bersifat rahasia. Sifat entanglement dapat menguji prinsip fisik dan meningkatkan ketelitian. Dengan quantum networking pula dapat dimungkinkan untuk menggunakan algoritma yang lebih tinggi dan lebih cepat. Saat ini di berbagai belahan dunia, banyak grup yang melakukan eksperimen mengenai quantum networking dan masih banyak yang dapat dikembangkan mengenai quantum networking. Meskipun pada tingkat fundamental mengalami perubahan, prinsip jaringan pada quantum networking tetap sama sehingga ilmu telekomunikasi dan jaringan yang ada sekarang dapat diterapkan pada quantum networking di masa depan. 

Bapak Thomas Widodo memberi penjelasan singkat mengenai kondisi dan tantangan telekomunikasi di Indonesia. Komunikasi sendiri terdiri dari bermacam-macam komponen seperti kondisi pengguna yang berbeda, jaringan telekomunikasi yang berbeda, sistem kendalinya, dan data. Kondisi sistem telekomunikasi di Indonesia seperti kondisi geografis yang berupa kepulauan, lokasi data yang tersebar, kebiasaan telekomunikasi, dan berbagai macam pilihan untuk koneksi, hal-hal tersebut merupakan faktor untuk menemukan DNA dari komunikasi di Indonesia sehingga pemberi layanan telekomunikasi dapat mengidentifikasi kelompok karakter dan tingkah laku dari klien dan pengguna, sistem dan jalur komunikasi yang sesuai, dan usaha apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelayanan yang memiliki kemampuan kecerdasan buatan dan kemampuan self-healing dan self-reconfiguring. Dengan cloud of service yang inteligen akan didapatkan pelayanan terkustomisasi yang tangguh, mencakup seluruh daerah di Indonesia tanpa adanya redudansi, dan sesuai untuk berbagai macam klien dari pemerintahan (B2G, Business to Government), institusi finansial, hingga jaringan perusahaan (B2B, Business to Business).

 

Bapak Wolfgang-Martin Boerner menjelaskan mengenai  wideband interferometeric sensing dan imaging polarimetry. Wideband interferometric sensing atau penginderaan interferometrik pita lebar sendiri adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena dengan alat yang tidak bersentuhan secara fisik dengan objek yang dilakukan dengan memanfaatkan prinsip superimpose atau penggabungan pada lebih dari satu daerah panjang gelombang. Imaging polarimetry sendiri adalah sistem pencitraan yang memanfaatkan prinsip polarimetri untuk mendapatkan informasi yang diterjemahkan dalam bentuk citra. Kedua hal tersebut penting diterapkan untuk mengetahui kondisi permukaan bumi dan vegetasinya terutama pada daerah yang berada di sekitar khatulistiwa seperti Indonesia. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penginderaan jauh yang dilakukan dengan metode konvensional mengalami hambatan dari banyaknya awan yang menutupi bidang pandang sensor dari satelit. Selain dapat mendapatkan informasi mengenai kondisi permukaan bumi dan vegetasi, dengan wideband interferometric sensing dan imaging polarimetry bisa didapatkan pula informasi mengenai lempeng tektonik, lapisan bumi, dan biosfer. Penginderaan yang dilakukan sendiri memanfaatkan spektrum gelombang elektromagnetik yang tidak hanya terdiri dari cahaya nampak saja, dengan menyesuaikan panjang dan frekuensi gelombang dengan objek yang akan diamati, terutama menggunakan gelombang microwave (X,C,S,L, dan P dengan rentang 0.35-9.6 GHz) yang tidak diserap oleh zat seperti oksigen, ozon, atau air. Informasi lempeng tektonik seperti gempa bumidapat diamati dengan melihat ciri khas (signature) elektromagnetik dari kejadian atau objek tersebut.  Selain menggunakan satelit, informasi dapat pula didapatkan dengan menggunakan pesawat terbang seperti Misi PacRim2 yang dilakukan pada tahun 2000 di kawasan Asia Pasifik.

 

Prinsip interferometri dapat dijelaskan dengan menggunakan informasi yang didapat dari dua receiver yang memiliki jarak azimuth tertentu untuk kemudian digabungkan. Mode polarisasi yang dapat digunakan untuk pencitraan sendiri bermacam-macam dari polarisasi tunggal, ganda, kembar, sampai kuadpolarisasi. Analisis yang dapat dilakukan pada citra  bermacam-macam seperti menghitung matriks penyebaran (scattering matriks) yang kemudian didekomposisi, matriks kovarians dan koherensi, dan bermacam-macam analisis lainnya. Perkembangan selanjutnya di bidang ini masih diharapkan. Dibutuhkan sensor yang lebih baik, dari sensor di luar angkasa atau di angkasa, perkembangan algoritma yang semakin baik, dan aplikasi lain yang dapat dilakukan.

Cyberneticscom 2013 dan Comnetsat 2013 telah dilaksanakan dengan IEEE SB UGM ikut terlibat dalam penyelenggaraannya. Pada rangkaian konferensi tersebut selain mendapatkan pengetahuan dari keynote speaker dan perkembangan penelitian yang sedang dilakukan di Indonesia dan di dunia dari paper-paper yang dipresentasikan, didapat juga hubungan yang semakin erat antarakademika dalam bidang-bidang yang dilibatkan di dalamnya. Sampai bertemu di Cyberneticscom dan Comnetsat di tahun berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>