«

»

Jun 03

Nuklir untuk Pengobatan, Berbahayakah?

Jika kita mendengar kata nuklir, mungkin sebagian besar dari kita langsung mengingat tragedi Chernobyl di Ukraina pada 1986. Tragedi Chernobyl merupakan kecelakaan reaktor nuklir terburuk dalam sejarah dunia. Reaktor nuklir meledak dan diikuti kebakaran hebat yang menyebarkan gelombang radiasi ke wilayah Eropa. Tragedi ini menyebabkan kontaminasi radiasi meluas di Ukraina, hingga sampai ke Belarus dan Rusia. Korban tewas pada tragedi ini sejumlah 50 orang, yang terdiri dari para staf reaktor dan tim penyelamat.

Luasnya dampak dari paparan radiasi Chernobyl membuat korban yang berjatuhan sangatlah banyak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sembilan ribu orang terkena radiasi. Sedangkan aktivis lingkungan hidup Greenpeace menyatakan jumlah yang terpapar mencapai sembilan puluh tiga ribu orang. Mereka mengalami berbagai penyakit seperti kanker dan bayi-bayi dilahirkan cacat karena mutasi gen. Peristiwa ini membuat kata nuklir menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia. Di Indonesia sendiri, berbagai rencana pembuatan PLTN di Indonesia ditolak oleh masyarakat.

Namun kini, dunia medis mulai menggunakan bahan bahan radioaktif untuk membantu proses diagnosa penyakit. Jenis bahan radioaktif yang digunakan ialah bahan yang memiliki waktu paruh rendah. Seperti yang kita ketahui, setiap bahan radioaktif memiliki waktu paruh yang berbeda beda. Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan untuk setengah dari jumlah awal obat/ zat lain dihilangkan dari tubuh.

Pada aplikasinya, penggunaan nuklir dalam pengobatan digunakan pada berbagai alat medis, salah satunya PET Scan. PET (Positron Emission tomography) scan adalah teknik untuk visualisasi metabolisme tubuh dengan menggunakan radioisotop pemancar positron. Bahan radioaktif yang digunakan adalah FDG (Fludeoxyglucose).  Bahan tersebut dimasukkan ke dalam tubuh pasien dalam beberapa cara, suntik, hirup dan diminum. Namun cara yang paling umum digunakan adalah suntik.

Sel kanker akan memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi dari sel lainnya sehingga ketika FDG beredar di dalam tubuh, FDG akan memancarkan radiasi gamma yang akan ditangkap oleh kamera gamma. Sinar gamma dihasilkan ketika positron menabrak elektron dalam jaringan. Tabrakan tersebut menghasilkan sepasang foton sinar gama yg berlawanan arah. Sinar inilah yg ditangkap kamera sehingga posisi daerah yang terkena kanker atau tumor dapat terlihat.

Pengukuran dengan PET scan ini dengan melihat TAC (time activity curve) dari jaringan, pada waktu tertentu. PET Scan lebih handal dari alat medis lain seperti MRI dan CT Scan karena dengan PET Scan kita tidak hanya dapat melihat anatomi tubuh namun juga aktivitas metabolisme dalam tubuh.

Lalu berbahayakah pengobatan dengan nuklir? Seperti yang telah disebutkan di atas, bahan radioaktif yang digunakan dalam dunia medis adalah bahan yang memiliki waktu paruh yang kecil sehingga dengan cepat efek radioaktif dari bahan tersebut akan hilang dan akan keluar dari tubuh dalam bentuk urine sehingga kita tidak perlu mencemaskan efek radiasinya.

 

Rani Mahita Aji

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>