«

»

Oct 16

MOBIL LISTRIK Solusi Ramah Lingkungan ??

Oleh:

I Nyoman Yuliarsa

Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi

Sistem Tenaga Listrik 2010

Perkembangan teknologi senantiasa tumbuh seiring dengan kemajuan taraf hidup manusia. Tingkat mobilitas manusia yang begitu tinggi menuntut adanya ketersediaan alat transportasi yang memadai. Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya moda transportasi yang murah, irit dan cepat, tapi juga ramah lingkungan. Belakangan ini di Indonesia masyarakat terus disuguhi dengan ekspos media tentang mobil listrik, mulai dari mobil hybrid yang dikeluarkan pabrikan asal Jepang, Toyota Prius sampai mobil listrik karya anak bangsa Danet Suryatama, Tucuxi yang dipamerkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Namun, ada pertanyaan menarik yang muncul – Apakah mobil listrik tersebut benar-benar ramah lingkungan?

Hampir sebagian besar negera maju berlomba-lomba untuk mengembangkan teknologi mobil listrik. Mereka mengklaim bahwa mobil listrik mampu menghasilkan emisi gas buang CO2 yang lebih rendah ketimbang mobil berbahan bakar minyak yang paling irit sekalipun. Jika parameternya hanya pada kondisi saat mobil digunakan, tentu mobil listrik unggul telak. Sayangnya, perbandingan itu tidaklah adil. Pada prinsipnya, mobil apapun jenisnya selalu lahir dari sebuah proses panjang hingga bisa dikendarai di jalanan. Tahapan dari awal hingga akhir itulah yang semestinya dibandingkan.

 

sumber : Spectrum Magazine edisi Juli 2013

                Nyatanya proses manunfaktur komponen mobil listrik membutuhkan energy yang jauh lebih banyak daripada proses manufaktur pada mobil standar pada umumnya. Itu artinya mobil listrik boros energi.

Dari gambar diatas terlihat bahwa casing yang digunakan akan pada mobil listrik memiliki bobot ringan. Perlu dilakukan serangkaian proses rekayasa material untuk menghasilkan komponen logam alumunium yang kuat namun ringan. Rangkaian proses ini menyedot energy yang begitu banyak. Motor penggerak yang dgunakan pada mobil listrik dibuat dari mineral langka bernama neodymium dan dysprosium. Proses eksplosi dan pengolahan bahan mineral ini harus ditangan dengan serius dan hati-hati karena bisa menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah teknologi baterai pada mobil listrik. Campuran senyawa lithium, tembaga dan nikel measih menjadi primadona dalam teknologi penyimpanan catu daya yang ada. Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua senyawa merupakan logam beracun yang bisa mencemari lingkungan jika tidak ditangan dengan baik.

Lebih jauh lagi, jika mobil listrik tetap disuplai dari listrik yang dihasilkan oleh PLTU yang menghasilkan polusi tinggi tentu misi ramah lingkungan yang dibawa oleh mobil listrik menjadi hilang sia-sia.  Para pendukung mobil listrik beralasan bahwa mobil listrik dapat disuplai dari solar cell yang menggunakan energy matahari dalam menghasilkan listrik. Namun sayangnya, teknologi sel surya belum sepenuhnya matang. Sel surya mengandung logam berat dan dalam proses pembuatannya menghasilkan gas rumah kaca SF6 yang 23.000 kali lebih berbahay ketimbang CO2.

Secara sekilas memang mobil listrik menjanjikan masa depan yang lebih ramah lingkungan dalam implementasinya. Tapi ternyata ada rahasia besar dibalik itu semua yang sekiranya bisa menjadi pertimbangan serius bagi seluruh pihak terkait dalam menetukan regulasi terkait mobil listrik ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>