«

»

Nov 11

Memulai Industri IC-DESIGN di Indonesia

Jhon Wesly Bangun

Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi

Instrumentasi dan Kendali

2010

Saat ini, perkembangan dunia teknologi berkembang sangat cepat. Hal ini juga disebabkan karena perkembangan piranti – piranti elektronik yang juga berkembang cukup pesat khusnya di bidang mikroprosesor. Memang tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa perkembangan teknologi saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan dunia elektronika, karena hampir semua teknologi yang berkembang saat ini, sudah dijamah oleh piranti elektronik, bahkan mobil yang dulunya hanya menggunkan teknologi klasik (mekanik), namun sekarang sudah berkembang ke arah elektronik, seperti pada mobil listrik.

Namun, mengapa sampai sekarang, negara kita ini, sepertinya masih belum mau melebarkan sayap-nya di bidang industri elektronika khusunya di bidang mikroprosesor?

Mungkin saat ini ada beberapa industri yang bergerak di bidang mikroprosesor atau IC Design di Indonesia, seperti Versatile Silicon Technology  di Bandung. Akan tetapi, jumlah industri mikroprosesor yang ada di Indonesia sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah konsumen piranti – piranti elektronik.

Di sisi lain, perkembangan mikroprosesor di negara – negara maju, sudah sangat jauh di depan kita. Perkembangan mikroprosesor dapat dilihat dari tingkat kepadatan transistor yang ada di dalam core nya. Saat ini, untuk mikroprosesor six core Core i7, jumlah transistor nya adalah 1.170.000.000 dengan area yang digunakan hanya seluas 240 mm2. Bagi orang yang mengerti mengenai dunia mikroprosesor, hal tersebut sangatlah mengagumkan. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah negara kita sanggup mengejar ketertinggalan teknologi tersebut?

Dari sisi pemerintah sendiri, pemerintah negara ini hanya sibuk mengurusi eksploitasi sumber daya alam yang kita miliki khusunya di bidang migas dan pertambangan. Padahal sumber daya alam tersebut tidak dapat diperbaharui, terlebih lagi proses ekspolrasi migas saat ini tidaklah semudah dahulu, dimana dibutuhkan teknologi yang canggih untuk eksplorasi karena sumber minyak dan gas bumi berada di daerah yang sulit untuk dijangkau. Sehingga secara tidak langsung, kita tergantung terhadap teknologi yang dimiliki oleh negara maju untuk mengeksplorasi kekayaan yang kita miliki sendiri.

Di sisi lingkungan kampus sendiri, pandangan dari para mahasiswa bahwa bekerja di sektor minyak dan gas, merupakan suatu jalan pintas untuk memperoleh penghasilan yang tinggi membuat semakin sedikitnya peminat mahasiswa yang melakukan riset atau berkecimpung di bidang IC design atau mikroprosesor. Sebagai contohnya, di program studi Teknik Elektro UGM, peminat di sub konsentrasi elektronika di tahun 2012 hanya 1 orang dan di tahun 2013 tidak ada sama sekali. Selain karena proses belajarnya yang relatif cukup sulit, untuk melakukan penelitian di bidang mikroprosesor atau IC design  sendiri butuh ‘ongkos’ yang cukup mahal.

Hal ini, menyebabkan kita hanya menguasai teknologi di bidang – bidang yang ‘terlalu’ aplikatif tanpa menguasai dasar dari teknologi tersebut. Hal ini tentu saja akan membuat negara kita akan terus menjadi pasar bagi negara – negara maju. Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk memahami suatu teknologi dari dasarnya terlebih dahulu, kemudian menciptakan suatu alat yang aplikatif agar tidak ada ‘ketergantungan teknologi’ terhadap negara lain.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>