«

»

Mar 09

IEEE ISC 2013, 1 Maret Sesi 2

MANAJEMEN ENERGI

Oleh: Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, MK (FT UI)

Ada beberapa hal yang mengharuskan kita untuk benar-benar memperhatikan manajemen energi. Hal pertama adalah anggapan bahwa Indonesia kaya energi. Energi di Indonesia memang banyak dan beraneka ragam tetapi jumlah rakyat yang membutuhkan energi juga banyak. Indonesia tidak kaya energi. Hal kedua adalah penggunaan bahan bakar fosil yang besar. Pembangkit listrik kita sendiri menggunakan bahan bakar fosil. Di satu sisi kita harus meningkatkan produksi energi listrik  untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tetapi di sisi lain kita harus mereduksi karbon dioksida. Melihat ketergantungan yang masih sangat besar terhadap bahan bakar fosil, reduksi karbon dioksida masih tidak mungkin dilakukan. Sebagai tambahan informasi, emisi karbon dioksida terbesar di dunia dihasilkan oleh Asia. Hal ketiga adalah subsidi pemerintah untuk energi fosil. Sudah saatnya pemerintah mengurangi subsidi untuk energi fosil. Subsidi pemerintah tidak tepat sasaran karena rakyat yang menikmati subsidi adalah rakyat yang memiliki kendaraan pribadi seperti mobil bukan rakyat miskin.

Persoalan energi di Indonesia yang harus diatasi adalah pemakaian peralatan elektronik yang semata-mata untuk kenyamanan, penggunaan teknologi yang boros energi dan tidak ramah lingkungan, kenaikan harga minyak yang dapat mempengaruhi APBN, persentase penggunaan bahan bakar minyak pada semua sector, subsidi terhadap bahan bakar minyak dan energi listrik yang besar dan tidak tepat sasaran, dan kesadaran masyarakat akan hemat energi yang masih kurang.

Dengan melihat persoalan energi di Indonesia, arah kebijakan yang harus diambil adalah konservasi energi (demand side), dan diversifikasi energi (supply side).

Konsep manajemen energi harus dilaksanakan dirumah dan tempat kerja. Alasan hal ini harus dilaksanakan adalah peningkatan profit, penghematan biaya operasi dan produksi, peningkatan produksi dan servis, peningkatan kondisi kerja, pengurangan emisi dan limbah perusahaan.

Pendekatan manajemen energi dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

  1. Monitoring
  2. Benchmarking
  3. Audit
  4. Analysis
  5. Execution

Pendekatan ini berdasarkan inovasi energi. Dengan demikian, kebijakan energi yang diambil dapat disokong dengan baik.

Energi yang kita miliki bukan hanya milik kita sekarang tetapi juga miliki generasi mendatang

 

 

MENUJU ERA ENERGI TERBARUKAN

Oleh: Prof. Ir. Rinaldy Dalimi, M.Sc. Ph.D (DEN)

Apabila membicarakan kebijakan energi nasional, kita memiliki tiga kata kunci yaitu, ketahanan, kemandirian, dan keberlanjutan. Ketahanan nasional di bidang energi cukup kuat karena Indonesia memiliki sumber daya energi yang jumlahnya banyak dan beraneka ragam. Contoh sumber daya energi yang dimiliki Indonesia adalah bahan bakar bakar fosil, gas alam, biofuel, energi solar, dan batu bara.  Selain itu juga ada sumber daya energi nuklir tetapi Indonesia belum harus mengambil keputusan untuk memberdayakan sumber ini karena masih banyak sumber daya energi lain yang lebih aman. Sumber daya energi ini tersebar merata di seluruh nusantara. Saat ini Indonesia belum begitu mumpuni di bidang kemandirian energi. Hal ini disebabkan oleh faktor teknis dan nonteknis. Faktor teknis ini adalah belum mampunya Indonesia dalam mengolah sumber daya energi yang ada. Faktor nonteknis yang dimaksud adalah kebijakan pemerintah sendiri yang belum mendukung, contohnya adalah kebijakan pemerintah yang mengizinkan Pertamina melakukan ekspor dan impor sumber daya energi sekaligus. Padahal, Indonesia seharusnya melakukan ekspor apabila  komoditas yang dihasilkan melebihi kebutuhan dalam negeri. Keberlanjutan energi nasional masih lemah. Rakyat Indonesia sangat konsumtif. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kendaraan pribadi yang digunakan saat ini di Indonesia. Kita harus ingat bahwa energi yang ada saat ini tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi mendatang.

Melihat fakta bahwa sumber daya energi di Indonesia banyak dan bervariasi, Indonesia masih mengalami krisis energi. Kekurangan (krisis) energi yang dialami oleh sebagian masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia sekarang bukan karena tidak mempunyai sumber daya energi tetapi karena belum menemukan manajemen tata kelola.

Potensi energi fosil cukup untuk memasok energi hingga 2050. Walaupun demikian, penggunaan energi fosil tidak ramah lingkungan karena menghasilkan karbon dioksida. Oleh sebab itu, perlu adanya penggalakan energi terbarukan seperti biofuel dari tumbuhan jarak dan energi solar. Penggunaan biofuel masih belum popular karena harganya lebih mahal daripada bahan bakar premium. Padahal, bahan bakar premium itu disubsidi pemerintah. Apabila bahan bakar premium tidak disubsidi pemerintah, harga premium lebih mahal daripada biofuel. Walaupun Indonesia berada di daerah khatulistiwa yang memiliki potensi energi solar sangat besar, penggunaan energi solar belum popular karena mahal. Subsidi energi fosil harus dialihkan ke energi terbarukan. Mulai tahun 2020 pemanfaatan energi terbarukan akan meningkat secara signifikan karena harga energi terbarukan akan mulai bersaing dengan energi fosil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>