«

»

Jun 01

Electroretinogram (ERG) : Solusi Deteksi Dini Buta Warna Pada Balita

Buta warna merupakan kelainan genetik dimana syaraf mata tidak dapat menangkap suatu spektrum warna tertentu. Karena buta mata merupakan kelainan genetis, deteksi dini buta warna pada balita sangatlah penting. Pada orang dewasa tes buta warna dapat dilakukan dengan pengujian menggunakan angka yang di bentuk dengan menggunakan dengan bulatan-bulatan berwarna. Pasien harus membaca angka yang terlihat di tes tersebut, dan ke akuratan pembacaan pasien lah yang menjadi tolak ukur pengujian. Namun, bagi balita yang belum dapat membaca, tentu tes ini tidak dapat dilakukan karena balita tidak dapat membaca angka yang ada pada pengujian tersebut. Untuk itu deteksi buta warna dapat dilakukan dengan menggunakan Electroretinogram (ERG).

Mata manusia mempunyai dua jenis syaraf yang terletak pada retina, yakni cone dan rod. Cone merupakan syaraf yang sensitif pada warna. Cone memiliki tiga macam pigmen yakni merah, hijau, dan biru. Kombinasi ketiga pigmen tersebut lah yang membuat kita dapat melihat berbagai macam warna. Sedangkan rod adalah syaraf pada mata yang sensitif terhadap terang dan gelap. Dari kedua jenis syaraf itulah kita dapat mengetahui aktivitas elektris pada mata manusia.  Ketidakabnormalan kerja syaraf mata dapat di ketahui dengan menganalisis sinyal elektris dari aktivitas cone dan rod pada retina. Prinsip inilah yang digunakan pada alat ERG. Mata pasien akan diberikan stimulus stimulus berupa cahaya dengan intensitas yang berbeda beda untuk mengetahui rangsangan mata terhadap stimulus tersebut. Rangsangan ditangkap dengan menggunakan elektrode berbentuk lensa kontak yang dipasang pada mata pasien.

Pada pengujian rod, pasien di adaptasi terlebih dahulu dengan keadaan gelap selama 20 menit, kemudian mata akan tiga jenis stimulus cahaya. Stimulus pertama berfungsi untuk mengetahui respon rod, yakni respon mata terhadap terang dan gelap. Stimulus yang diberikan ialah dim white flash sebesar 0.01 cdsm-2; interval minimum antar flash nya 2 s. Stimulus kedua berfungsi untuk mengetahui respon kombinasi antara rod dan cone. Stimulus yang diberikan berupa flash putih 3.0 cd.s.m-2 dengan interval minimum antar flash nya 10 s. Stimulus yang ketiga berfungsi untuk mengetahui oscillatory potential atau respon antar syaraf di retina. Pada tahap ketiga ini stimulus yang diberikan sama dengan stimulus sebulnya yang sebesar 3.0 cd.s.m-2 namun dengan interval minimum antar flash nya 15s.

Sama halnya dengan pengujian rod, pada pengujian cone pasien juga diberikan stimulus cahaya dengan intensitas tertentu namun sebelumnya pasien harus diadaptasi dengan cahaya terang dengan luminans 30 cd.m-2. Stimulus pertama berfungsi untuk mengetahui respon cone, yakni respon mata terhadap berbagai macam warna. Stimulus yang diberikan ialah dim white flash sebesar 3.0 cdsm-2 dengan interval antar stimulus sebesal 0.5s. Stimulus kedua adalah untuk mengetahui sinyal flicker yakni sinyal yang menggambarkan sensitifitas cone. Stimulus yang diberikan ialah cahaya sebesar 3.0 cdsm-2 dengan banyak stimulus per detiknya sebanyak 30 kali.

Seluruh pengujian ERG dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari masing masing respon syaraf yang menghasilkan sinyal elektris dari mata pasien ketika diberi stimulus, dan hasilnya akan dibandingkan dengan respon dari mata normal. Akan dilihat amplitudo serta delay yang ada pada sinyal tersebut, sehingga jika ada perbedaan kedua parameter di atas maka diketahui jika ada kelainan penglihatan pada pasien, salah satunya buta warna pada balita.

Rani Mahita Aji

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>